1.
Judul
Penelitian : Upaya Peningkatan
Aktivitas dan Hasil Belajar
Siswa dengan
Model Pembelajaran Number Heads Together (NHT ) pada materi Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kelas IX-B SMP N 1 Simanindo Tahun
Ajaran 2018/2019
2.
Peneliti :
Friska Panjaitan, SPd
Jenis Kelamin : Perempuan
Pangkat/ Golongan : Penata TK 1, III/d
NIP :
1981 0903 2006 04 2007
3.
Jabatan Sekarang : Guru Mata pelajaran
4.
e-mai :
friska panjaitan79
@yahoo.com
5.
Sekolah : SMP Negeri 1 Simanindo
6.
Jangka
Waktu Penelitian : 3 Bulan
7.
Biaya
Penelitian : Sendiri
Ambarita, Januari
2019
Mengetahui
:
Kepala SMP
N 1 Simanindo Peneliti
John
Wilter N
KATA PENGANTAR
Seraya
memanjatkan puji dan syukur kehadirat TYME karena penulis menyadari bahwa
berkat rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan PTK dengan judul “Peningkatan
Aktifitas dan hasil Belajar Siswa dengan Model Pembelajaran Number Heads Together (NHT) pada Materi
Peristiwa Proklamasi Kemer dekaan Indonesia di Kelas IX
-B SMP Negeri 1 Simanindo Tahun Ajaran 2018/2019”.
Penulis
menyadari bahwa PTK
ini masih terdapat kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu
kritik dan saran para pembaca akan penulis terima dengan senang hati demi
penyempurnaan PTK
ini di masa yang akan datang.
Ambarita,
April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Daftar Isi …………………………………………………………………………………………i-ii
Lembar
Permohonan Melaksanakan Penelitian Tindakan kelas………………………………..iii
Lembar Surat Penugasan Melaksanakan Penelitian tindakan Kelas……………………………………………...iv
Lembar
Surat Undangan Melaksanakan Seminar
PTK…………………………………………v
Lembar
Berita Acara Seminar PTK……………………………………………………………...vi
Lembar Daftar Hadir Anggota Peserta Seminar
PTK………………………………………….vii
Lembar Notulen Hasil Seminar
PTK.………………………………………………………….viii
Lembar
Berita Acara Penyerahan Penelitian Tindakan Kelas Ke Perpustakaan………………ix
Lembar
Surat Pernyataan Keaslian PTK…………………………………………………………x
Lembar
Dokumentasi PTK…………………………………………………………………xi-xxii
Kata
Pengantar…………………………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1
A.
Latar
belakang Masalah........................................................................................ 1
B.
Identifikasi
Masalah..............................................................................................3
C.
Pembatasan
Masalah............................................................................................. 3
D.
Perumusan
Masalah.............................................................................................. 4
E.
Tujuan
PTK.......................................................................................................... 4
F.
Manfaat
PTK.........................................................................................................5
BAB II KAJIAN
TEORI
A.
Defenisi
Konseptual............................................................................................. 6
1.
Hakikat
Hasil Belajar..................................................................................... 6
2.
Model
belajar NHT......................................................................................... 8
B.
Kerangka
Berpikir................................................................................................10
C.
Rumusan
Hipotesis Tindakan...............................................................................10
BAB III. METODE
PENELITIAN.......................................................................................... 11
A.Penataan Penelitian............................................................................................................. 11 1.Tempat pelaksanaan Penelitian................................................................................................................................ 11
2.Subjek penelitian 11 3.Mata Pelajaran..................................................................................................................... 11
4.Jadwal penelitian................................................................................................................. 11
B. Yang diselidiki................................................................................................................... 11
C. Rencana Kegiatan/
Prosedur Penelitian.............................................................................. 12
D.Data ................................................................................................................................... 14
E. Cara Pengumpul Data......................................................................................................... 14
F.Analisis Data dan
Refleksi................................................................................................... 18
1.Menyeleksi dan mengelompokkan data........................................................................... 18
2.Mendiskripsikan data........................................................................................................ 18
3.Menyimpulkan data/ memberi makna............................................................................... 18
G. Jadwal Kegiatan................................................................................................................. 19
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil
Penelitian…………………………………………………………………………..20
B. Pembahasan……………………………………………………………………………...41
C. Komparasi
Penelitian……………………………………………………………………45
BAB V.
PENUTUP
A.
Kesimpulan………………………………………………………………………….....49
B.
Saran…………………………………………………………………………………....50
Daftar Pustaka……………………………………………………………................................51
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan di Ujian Sekolah pada setiap
akhir tahun pelajaran yang juga ikut menentukan predikat kelulusan setiap siswa
SMP, karena dari pelajaran IPS tersebut diharapkan siswa mampu meningkatkan
kepekaan terhadap masalah-masalah sosial disekitarnya serta mampu menerapkan
ilmu yang mereka dapat dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga penguasaan
terhadap materi pelajaran IPS perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu
materi ajar yang perlu mendapat perhatian khusus itu adalah pada tema Peristiwa
sekitar proklamasi yang konten materinya begitu banyak jalinan cerita yang
bersifat kronologis serta bersifat berurut.
Permasalahannya kondisi siswa di pembelajaran
peristiwa sekitar proklamasi seringkali didominasi oleh kegiatan menulis,
mencatat, mendengarkan guru menerangkan, membaca buku. Semua itu adalah
aktivitas yang dilakukan oleh otak kiri saja sehingga siswa sering merasa bosan
untuk belajar dan kurang memiliki inisiatif untuk aktif secara individu maupun
berkelompok.
Problem lainnya juga nampak pada
sebuah momen pembelajaran seringkali jika guru memanggil siswa untuk tampil di
depan kelas pemandangan yang terjadi nyaris selalu ada dua kondisi yang muncul
yaitu ada siswa yang dengan mudah dipanggil maju ke depan kelas, sebaliknya
banyak siswa yang selalu sulit untuk memberanikan diri tampil ke depan kelas.
Hal lain lagi yang sering terlihat para siswa kurang terkondisi dalam keadaan
bahwa tiap individu siswa memiliki peluang yang sama untuk dilibatkan secara
aktif, seharusnya tidak melulu para siswa yang pandai saja yang aktif tetapi
siswa lainnya pun dapat berperan lebih aktif dari biasanya. Untuk itu perlu
dipikirkan model pembelajaran yang memungkinkan semua siswa aktif seperti
beberapa model pengelompokkan yang telah banyak kita kenal.
Model pembelajaran yang didominasi
oleh guru melalui ceramah-ceramahnya menyampaikan sejumlah informasi/materi
pelajaran yang sudah disusun secara sistematis mengkondisikan siswa dalam
tingkat partisipasi yang rendah serta siswa sering berada dalam situasi
“tertekan” yang berakibat pada tidak optimalnya pemusatan perhatian pada
kemampuan yang harus dikuasainya menjadi rendah termasuk juga aktivitas belajar
yang kurang menantang siswa untuk melakukan kerja yang maksimal. Dan
kalau hal ini terus berlanjut maka tujuan pengajaran IPS yang telah disampaikan
di atas tidak dapat tercapai.
Selain itu, hal yang menjadi
hambatan selama ini adalah pembelajaran IPS oleh guru seringkali dikemas
dengan cara yang konvensional atau tradisional yang selalu melaksanakan
rutinitas yang cenderung mengendapkan kreativitas serta seperti menutup mata
terhadap perkembangan IPTEK yang sebenarnya memberi kemudahan dalam konteks penyampaian
materi pelajaran, namun semua itu seperti terabaikan begitu saja. Dalam hal ini
media pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang menarik minat para siswa.
Untuk itulah diperlukan inovasi
pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mendorong terciptanya pembelajaran IPS
dalam hal ini materi pperistiwa sekitar proklamasi yang berkualitas yang
berangkat dari pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa.
Atas dasar semua itu, perlu adanya
upaya-upaya agar segala hambatan yang selama ini berlaku dapat segera diatasi.
Upaya-upaya yang mampu mengkondisikan seluruh siswa dapat aktif dalam proses
pembelajaran. Salah satu cara agar pembelajaran IPS dapat berlangsung dalam
suasana aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) berbasis TIK dengan model pembelajaran berkelompok Number Head
Together(NHT) interaktif dengan yang memanfaatkan infokus. Strategi
ini disinyalir akan lebih bantuan nmampu meningkatkan aktivitas sekaligus hasil
belajar siswa.
Oleh karena itu, perlu diadakan
penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui pengelompokkan model Number Heads Together
(NHT) interaktif dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas
sekaligus hasil belajar siswa, khususnya pada materi Peristiwa sekitar
proklamasi di kelas IX B SMP Negeri 1 Simanindo
B.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan situasi di atas, kondisi
yang ada saat ini adalah
- Sulitnya siswa memahami materi
IPS
- Rendahnya aktivitas siswa dalam
pembelajaran IPS
- Hasil belajar siswa kurang
optimal.
- Guru IPS masih belum kreatif membuat model
pembelajaran yang menggunakan teknologi dalam pembelajaran.
C. Pembatasan Masalah
Dari uraian yang ada di bagian identifikasi masalah, maka permasalahan dalam
penelitian ini
Adalah sebatas rendahnya aktifitas
siswa dalam pembelajaran IPS dan hasil belajar siswa kurang optimal
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan
identifikasi masalah di atas, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai
berikut :
- Bagaimana menerapkan model NHT interaktif agar dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Peristiwa sekitar
proklamasi di kelas IX B SMP Negeri 1 Simanindo?
- Apakah penerapan model pembelajaran NHT interaktif dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
peristiwa sekitar proklamasi di kelas IX B SMP Negeri 1 Simanindo?
E. Tujuan PTK
a. Meningkatkan aktivitas siswa
dalam pembelajarn IPS.
b. Meningkatkan hasil belajar siswa
dalam pembelajaran IPS.
c. Meningkatkan partisipasi siswa
dalam pembelajarn IPS.
d.Menkondisikan Guru dan siswa untuk
mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.
e. Mengoptimalkan potensi otak kanan
dan kiri para siswa.
f. Menjadikan guru lebih kreatif
dalam mengelola pembelajaran IPS.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan di bidang pendidikan khususnya dalam meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar siswa di pembelajaran IPS. Penelitian ini juga berguna:
1 Bagi Penulis
Merupakan alat untuk mengembangkan
diri sebagai guru yang professional.
2 Bagi Siswa
- Meningkatnya aktivitas siswa
dalam pembelajarn IPS.
- Meningkatnya hasil belajar
siswa dalam pembelajaran IPS.
- Meningkatnya partisipasi siswa
dalam pembelajarn IPS.
- Optimalnya potensi otak kanan
dan kiri para siswa.
3 Bagi Guru IPS dan guru
lainnya
- Guru mampu mengintegrasikan
teknologi dalam pembelajaran.
- Guru lebih kreatif dalam
mengelola pembelajaran IPS.
- Dapat menjadi bahan acuan dalam
menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran dengan media dan model
pengelompokkan yang tepat.
4. Bagi Sekolah
- Merupakan sumbangsih bagi
pengembangan praktek pembelajaran yang inovatif di SMP Negeri 1 Simanindo
- Memotivasi sekolah untuk lebih
meningkatkan layanan terhadap peningkatan mutu para guru di SMP Negeri
1Simanindo
BAB. II
KAJIAN TEORI
A. Defenisi Konseptual
1.Hakikat Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa adalah keterlibatan
siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran guna menunjang proses belajar mengajar da memperoleh manfaat dari
kegiatan tersebut. Peningkatan aktivitas siswa, yaitu meningkatnya jumlah siswa
yang terlibat aktif belajar, meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan
menjawab, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas materi
pembelajaran. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang
dilakukan guru akan mampu membawa siswa lebih berperan dan lebih terbuka serta
sensitive dalam kegiatan belajar mengajar.
Indikator aktivitas siswa dapat
dilihat dari: pertama, mayoritas siswa beraktivitas dalam pembelajaran; kedua,
aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa; ketiga, mayoritas
siswa mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru.
2. Hakikat Hasil Belajar
Menurut Samuel Soeitoe hasil belajar
merupakan perubahan mental pada diri pelajar atau modifikasi kecenderunganya.
Perubahan yang dimaksud, baik perubahan kognitif, afektif maupun psikomotor.
Perubahan-perubahan yang terjadi itu akan berinteraksi, artinya saling
mempengaruhi satu sama lain dank an tergambar pada diri siswa.
Lily Budiarjo mengutip pengertian
hasil belajar yang dikemukakan Bentley dalam buku The Bussines of Training
(1991) bahwa hasil belajar siswa ditandai oleh dua proses yaitu proses
menemukan dan proses menerima.
Sedangkan S. Nasution menyatakan
bahwa hasil belajar merupakan suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak
hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan
dalam diri pribadi individu yang belajar.
Hasil belajar siswa merupakan hasil
yang dicapai setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) pada satu mata
pelajaran untuk jangka waktu tertentu dan dapat diketahui dari hasil penilaian
belajar (evaluasi).
Evaluasi sebagai salah satu komponen
pada sistem instruksional yang tak terpisahkan dalam KBM. Ada beberapa pendapat
mengenai pengertian evaluasi. Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu. Sesuai dengan pendapat
tersebut maka evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk
menentukan nilai segala sesuatu dalam dunai pendidikan atau yang ada
hubungannya dengan dunia pendidikan.
Menurut Benjamin S. Bloom, evaluasi
adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan proses
perkembangan ilmu telah berada di jalur yang diharapkan. Dari pengertian
tersebut, jelas bahwa peran evaluasi begitu besar dalam kegiatan pendidikan.
Keberhasilan suatu pengajaran
umumnya dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa pada mata pelajaran
yang bersangkutan. Selain itu, tingkat motivasi siswa dalam proses belajar
mengajar turut membantu tercapainya hasil belajar yang diiinginkan.
Keberhasilan dalam proses belajar mengajar tidak terlepas dari faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut bisa timbul dari dalam (intern)
dan luar (ekstern) individu. Salah satu faktor intern adalah
motivasi siswa yang berperan besar terhadap keberhasilan belajar. Sedangkan
salah satu faktor ekstern yang cukup menonjol adalah fasilitas
pembelajaran yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai sarana komputerisasi serta
kemampuan komputer guru itu sendiri. Kedua faktor tersebut sedapat mungkin
diarahkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Penilaian terhadap kemajuan dan
hasil belajar siswa harus dilakukan secara berkesinambungan dan seobyektif
mungkin. Menilai kemajuan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar
mempunyai tujuan ganda, yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan
kesulitan yang dialami siswa dalam menguasai materi pelajaran dan untuk
mengetahui relevansi antara tujuan, materi, metode dan sasaran penyelenggaraan
program pembelajaran. Berdasarkan tujuan tersebut siswa dan guru memerlukan
umpan balik (feedback) atas upaya yang mereka lakukan sehingga siswa mengetahui
hasil belajarnya dan guru juga mengetahui keefektifan strategi pengajaran.
Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud dengan penilaian adalah nilai
tes di setiap akhir pembelajaran maupun ulangan harian siswa dalam mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) materi Peristiwa sekitar proklamasi
3. Hakikat Model NHT Interaktif
Jika kita sebagai guru ingin melihat siswa yang sulit
diaktifkan termasuk siswa paling pendiam pun berani tampil ke depan kelas maka
ada teknik yang dapat dijadikan alternatif bagi para guru yaitu melalui pemanfaatan
Model Pembelajaran Number Heads Together (NHT.) salah
satu model pembelajaran koperatif tipe NHT
Menurut Slavin ( dalam Isjoni, 2007:12),
pembelajaran kooperatif adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya 4-6 orang dengan
struktur kelompok heterogen.
Sedangkan
Sunal dan Hans ( dalam Isjoni, 2007:12) mengemukakan pembelajaran kooperatif
merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang
untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama proses
pembelajaran dan meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial.
Jhonson
( dalam Isjoni, 2007:17) medefinisikan
pembelajaran kooperatif sebagai upaya mengelompokkan siswa di dalam kelas ke
dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan
maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.
Dari
uraian di atas mengenai pendapat para ahli tentang pembelajaran kooperatif
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model atau strategi pembelajaran yang
mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiridari 4-6 orang
anggota kelompok dengan kemampuan yang heterogen sehingga siswa dapat bekerja
sama dan menumbuhkan sikap perilaku sosial.
Model Pengelompokkan Number Heads Together (NHT)
yang ditemukan oleh Spencer Kagan tahun 1992. Model pembelajaran ini
mengkondisikan seluruh siswa menjadi beberapa kelompok kecil dimana tiap
anggota kelompok memiliki nomor urut masing-masing yang juga menjadi kode
panggil. Cara pemilihan anggota kelompoknya pun diupayakan heterogen dari sisi
kemampuan siswanya sehingga distribusi ilmunya akan terjalin dengan baik serta
lebih merata .
Numbered
Head Together ( NHT) atau penomoran berfikir bersama adalah merupakan tipe
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa
dan sebagai alternatife terhadap struktur kelas tradisional. Numbered Head Together (NHT) pertama kali dikembangkan
oleh Spenser Kagen untuk melibatkan
lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran
dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Adapun langkah –
langkah pembelajaran NHT yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir
bersama, dan menjawab.
B. Kerangka Berpikir
Belajar adalah usaha atau proses
yang dilakukan oleh seseorang atau individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan.
Tugas seorang guru adalah
membelajarkan siswa. Berhasil tidaknya siswa dalam belajar ditentukan dari
model pembelajaran yang dibuat oleh guru. Guru profesional memciptakan model
pembelajaran yang tepat sesuai dengan kondisi peserta didik akan menciptakan
proses belajar yang berhasil menciptakan peserta didik yang aktif dalam belajar
yang ditunjukkan dengan prestasi belajar yang baik.
C. Rumusan Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan terbagi
ke dalam dua siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur perencanaan (planning),
tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
Melalui kedua siklus tersebut dapat diamati peningkatan aktivitas dan hasil
belajar siswa. Dengan demikian dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai
berikut :
- Dengan diterapkan media NHT interaktif dapat meningkatkan
aktivitas siswa dalam pembelajaran Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia di kelas IX-B SMP Negeri 1 Simanindo.
- Dengan diterapkan media NHT interaktif dapat meningkatkan hasil
belajar siswa dalam pembelajaran peristiwa Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia di kelas IX-B SMP Negeri 1 Simanindo
BAB. III
METODOLOGI
PENELITIAN
A. Penataan Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 1Simanindo untuk mata pelajaran IPS materi
Peristiwa sekitar Proklamasi
2.Subjek
Penelitian
ini dilakukan pada siswa kelas IX-B Tahun Pelajaran
2018/2019 SMP NEGERI 1
SIMANINDO
3.Mata
Pelajaran
Penelitian
ini dilakukan pada mata pelajaran IPS
4.Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
awal semester genap tahun pelajaran 2018/2019, yaitu bulan Februari sampai bulan Maret 2019
5.Karakreristik kelas
Jumlah peserta yang diteliti sebanyak 32 orang, jumlah laki – laki 15 orang dan perempuan 17 orang
B. Faktor yang diselidiki
1.
input
(1.1).
Lembar Kerja Siswa berupa dokument
(1.2).
Rangkuman Materi Peristiwa sekitar Proklamasi (Catatan )
(1.3).
Lembar Pengamatan Diskusi.
(1.4).
Lembar Evaluasi.
2. Proses kegiatan belajar mengajar
3.out put
3.1
Hasil aktifitas siswa pada kegiatan belajar
3.2
Hasil belajar siswa
C. Rencana Kegiatan/ Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan
dilaksanakan dalam 2 siklus.
Siklus pertama dalam PTK ini terdiri
dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut:
1. Perencanaan (Planning)
a.Tim peneliti melakukan analisis
kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa.
b. Membuat rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP).
c. Menyusun alat evaluasi
pembelajaran.
d. Menyusun NHT Interaktif
memanfaatkan power point dalam infokus
e. Membuat lembar observasi untuk
mendokumentasikan kegiatan siswa.
f. Membuat lembar observasi untuk mendokumentasikan
kegiatan guru.
2. Implementasi tindakan/ Skenario pembelajaran
|
URUTAN PEMBELAJARAN
|
AKTIVITAS
SISWA
|
METODE
|
MEDIA
|
ALOKASI WAKTU
|
|
Kegiatan awal
-Membuka
pembelajaran
-memberi motivasi
-Menjelaskan
manfaat materi dalam kehidupan
|
Mendengarkan
|
Ceramah
|
-
|
10 menit
|
|
Kegiatan Inti
|
-Menayangkan gambar tentang Peristiwa Sekitar
Proklamasi
Membagi kelas menjadi 4 kelompok
-Memberi pertanyaan tentang materi
|
Mengamati
Diskusi
Tanya jawab
|
Infokus
Buku pelajaran IPS kelas 9 K13
Lembar diskusi
|
60menit
|
|
Kegiatan Penutup
|
Menyimpulkan materi pelajaran
Mengumumkan kelompok terbaik
Menguji kemampuan siswa
Mengumumkan kelompok terbaik
Memberi PR
|
Ceramah
Mengikuti tes tulisan
|
Tes tulisan
|
10 menit
|
3).
Pengamatan (Observation)
a.
Situasi kegiatan belajar mengajar.
b.
Keterlibatan siswa untuk mengukur seberapa tinggi aktivitas siswa dalam
mengikuti pembelajaran.
c.
Kemampuan siswa dalam kerja kelompok maupun individu.
4).
Refleksi (Reflecting)
Penelitian
tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- Minimal 75% dari jumlah siswa
aktif mengikuti pembelajaran.
- Minimal 75% dari jumlah siswa
memiliki nilai ulangan harian yang mencapai dan/atau melampaui KKM mata
pelajaran IPS yaitu 70.
Siklus
2 (2 kali Pertemuan)
Seperti
halnya siklus pertama, silus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi.
D. Data Penelitian
1..Jenis data yang akan dikumpul adalah
1.1data kualitatif
-1.1.1Keaktifan siswa pada pembelajaran
-1.1.2Prestasi belajar siswa
1.2 data kuantitatif
1.2.1
Hasil ujian lisan
1.2.2
Hasil ujian tulisan
2. Alat Pengumpul Data PTK
2.1. Tes : menggunakan butir
soal/instrumen soal untuk mengukur hasil belajar siswa.
2.2. Observasi : menggunakan
lembar observasi untuk mengukur tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar
mengajar IPS.
2.3. Wawancara : menggunakan
panduan wawancara untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat
tentang model NHT interaktif.
2.5. Diskusi : menggunakan
lembar hasil pengamatan.
2.6. Lembar observasi siswa
- Siswa
- Tes: rata-rata nilai ulangan
harian
- Observasi: keterlibatan siswa
dalam proses belajar mengajar IPS
2.7. Lembar observasi kegiatan guru
|
NO
|
Aktivitas
|
Dilakukan
|
|
|
YA
|
TIDAK
|
|
|
1
|
Awal
|
1.Guru membuka pertemuan dengan doa lalu memberi salam,
menuliskan nama siswa yang tidak masuk dan bertanya kepada siswa apakah sudah
siap mengikuti pelajaran
2. mengemukakan kompetensi yang
akan dicapai pada pertemuan saat itu.
3. mengaitkan peran/manfaat penguasaan
kompetensi dalam kehidupan siswa
|
|
|
|
|
2
|
Inti
|
1.mereviu kembali tentang materi
pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya
2.mengajukan pertanyaan untuk
menggali informasi sekaligus menimbulkan ketertarikan siswa terhadap materi
pelajaran yang akan dipelajari.
3.memerintahkan kepada seluruh siswa untuk
kembali duduk ke kelompoknya masing-masing sehingga para siswa terbagi
menjadi 4 (empat) kelompok seperti di pertemuan sebelumnya.
4.Tiap kelompok mempersiapkan
materi masing-masing
5.membagikan lembaran bahan
diskusi sekaligus bahan kerjaberupa rangkuman materi dalam bentuk catatan.
6 melakukan penilaian menggunakan
tabel pengamatan kegiatan siswa.
7. mengundi dengan memanfaatkan
NHT Interaktif yang dibuat menggunakan Tabel Penilaian Proses Number Heads
Together untuk memilih kelompok mana yang presentasi terlebih dahulu
sekaligus anggota kelompok mana yang harus membawakan presentasi tersebut.
8. mengundi lagi untuk memilih
secara acak dari kelompok lain untuk bertanya atau memberi tanggapan. Demikian
seterusnya juga berlaku untuk kelompok lain.
|
|
|
3
|
Penutup
|
1menguji
penguasaan materi siswa melalui tes tertulis (soal diberikan lewat tayangan
Di layar LCD)
2mengumumkan kelompok terbaik pada pertemuan
saat itu dan mengajak seluruh siswa untuk memberikan apresiasi terhadap
kelompok terbaik tersebut dengan tepuk tangan.
memberikan tugas latihan soal (PR) dari Buku
BSE Sutarto.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
E. Analisis Data dan Refleksi
Data yang dikumpulkan pada setiap
kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara
deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan
yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
- Hasil belajar: dengan
menganalisis nilai rata-rata ulangan harian yang kemudian dibuat dalam
persentase ketuntasan belajar para siswa.
- Aktivitas siswa dalam proses
belajar mengajar IPS: dengan menganalisis tingkat keterlibatan siswa dalam
proses belajar mengajar IPS. Adapun kriteria keberhasilan dapat
dikategorikan dalam rentang sebagai berikut:
Kriteria Keberhasilan
|
≥ 80 %
|
Sangat Baik
|
|
60 % – 79,9%
|
Baik
|
|
40 % – 59,9%
|
Cukup Baik
|
|
20 % – 39,9%
|
Kurang Baik
|
|
< 20 %
|
Sangat Kurang
|
.
F.
Jadwal Kegiatan
|
No
|
Jenis
Kegiatan
|
|
|
|
|
|
|
|
Januari
|
Februari
|
Maret
|
|
|
1
|
Penyusunan
proposal
|
X
|
|
|
|
|
2
|
Pelaksanaan
siklus 1
|
|
X
|
|
|
|
3
|
Pelaksanaan
siklus 2
|
|
X
|
|
|
|
4
|
Tabulasi
dan analisis data
|
|
|
X
|
|
|
5
|
Penyusunan
laporan PTK
|
|
|
X
|
|
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan Siklus I
a. Perencanaan (Planning)
1) Sebelum menyusun rencana pembelajaran, peneliti
melakukan identifikasi
masalah dan merencanakan langkah-langkah yang akan
dilaksanakan pada siklus I.
2) Setelah peneliti mengetahui masalah dan
langkah-langkah yang akan
digunakan pada tindakan di siklus I. Peneliti kemudian
membuat Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
3) Menentukan pokok bahasan yang akan dijadikan materi
bahasan pada penelitian.
4) Mengembangkan skenario pembelajaran.
5) Menyiapkan sumber belajar.
6) Mengembangkan format evaluasi.
7) Mengembangkan format observasi pembelajaran.
b. Tindakan (Acting)
Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilaksanakan dalam
empat kali pertemuan
yaitu sebagai berikut.Pada tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa,
mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan (Arikunto, dkk
2006:17).
Tahap kedua adalah pelaksanaan yang merupakan
implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan
tindakan kelas. Dalam tahap ini peneliti harus ingat dan berusaha menaati apa yang dirumuskan dalam rancangan
(Arikunto, dkk 2006:18).
1) Pelaksanaan
pembelajaran pada pertemuan pertama
Hari / Tanggal : Kamis, 31 -01 - 2019
Waktu : Jam II dan III
(09.35- 10.25 WIB)
Tempat : Ruang Kelas
IX-B
a) Peneliti
memperkenalkan diri dan menjadi guru sementara di kelas ini. Guru terlebih
dahulu meneliti tingkat kesiapan siswa, mengecek absensi siswa serta mengondisikan
kelas agar pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif.
b) Melakukan apersepsi
dengan tanya jawab tentang materi yang akan diajarkan dan pengenalan model
pembelajaran NHT. Setelah siswa siap, guru memulai menjelaskan materi
yang didahului dengan memberikan tanya jawab tentang materi sekitar peristiwa
proklamasi 17 Agustus 1945 untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang
peristiwa proklamasi yang telah didapat pada
pembahasan sebelumnya. Guru antara lain memberikan
pertanyaan dimana proklamasi dibacakan, apa peristiwa
yang melatarbelakangi terjadinya proklamasi, serta siapa saja yang terlibat
dalam proses perumusan naskah proklamasi.
Dari hasil tanya jawab ternyata
dari 36 siswa,
yang berani menjawab pertanyaan hanya ada 6 siswa saja, ada sekelompok kecil terlihat
bermain sendiri tanpa menghiraukan proses pembelajaran yang sedang berlangsung.
Ada yang
diam memperhatikan, tetapi ada pula yang diam
dengan pandangan kosong.
Peneliti kembali mengulang pertanyaan sambil mengondisikan suasana agar siswa
dapat berkonsentrasi untuk menerima pelajaran.
Dari jawaban-jawaban yang didapat, peneliti memperoleh gambaran awal tentang pemahaman siswa terhadap materi ini sebagai modal awal untuk melangkah kepada materi yang
diajarkan.
c) Selanjutnya guru
menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi dan proses terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
d) Guru memandu siswa untuk mengemukakan pendapatnya
tentang hal-hal apa saja yang bisa dijadikan permasalahan untuk tugas
portofolio kelas yang berhubungan dengan materi ini. Berikut ini beberapa permasalahan yang diambil dengan cara pengambilan suara terbanyak
Siklus I
Permasalahan
1. latar belakang terjadinya
proklamasi 17 Agustus 1945
2. proklamasi dan konstitusi
Indonesia dari dulu sampai
sekarang
3. Dampak proklamasi bagi Indonesia
4. Tokoh –tokoh yang terlibat dalam
proklamasi Indonesia
e) Guru menutup pelajaran
2) Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama
Hari / Tanggal : Kamis -07- 02- 2019
Waktu : Jam V dan VI (1035 – 11.30 WIB)
Tempat : Ruang Kelas IX-B
a) Guru terlebih dahulu meneliti tingkat kesiapan siswa,
mengecek absensi siswa serta mengondisikan kelas agar pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif.
b) Setelah pada
pertemuan yang lalu telah disetujui bersama tentangpermasalahan yang akan
dibahas pada portofolio kelas, sekarang siswa dibagi menjadi 4 kelompok,
masing-masing diberi sumber bacaan sebagai wacana / sumber dalam menjawab atau
mencari solusi sementara terhadap isu / masalah yang telah disampaikan siswa.
c) Guru bersama siswa
berdiskusi untuk mencari solusi sementara tentang masalah yang telah
dikemukakan siswa
d) Guru membimbing siswa untuk menentukan sumber-sumber
informasi berkenaan
dengan masalah yang dikaji kelas
e) Siswa dibagi
menjadi 4 kelompok masing-masing diberikan tugas sebagai
berikut :
Kelompok I. Pemanggilan 3 tokoh ke
Dalat, Vietnam
Kelompok II. Peristiwa Rengasdengklok
Kelompok III Perumusan teks proklamasi
Kelompok IV Pelaksanaan proklamasi
f) Guru bersama siswa
berdiskusi tentang tugas-tugas yang harus dilakukanmsiswa di luar kelas antara
lain mengumpulkan data melalui wawancara dan pencarian data dari buku, artikel,
koran, majalah dan sebagainya. Cara menyusun laporan, dokumentasi. Berikut ini merupakan
panduan dalam menjalankan model pembelajaran NHT
(1) Kelompok I
Tugas kelompok ini adalah menjelaskan masalah. Kelompok I ini menyiapkan dokumen.
Hasil pekerjaan kelompok I untuk seksi penayangan dibuat pada panel pertama
yang harus memuat hal-hal sebagai berikut :
(a) Rangkuman masalah secara tertulis Tinjau ulang
masalah yang akan dikumpulkan oleh tim peneliti. Rangkumlah apa yang telah
dipelajari dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan sebagai berikut :
(1)alasan pemanggilan 3 tokoh
ke Dalat
(2) tokoh yang memanggil 3 tokoh tersebut,
(3) Apa tujuan pemanggilan 3
tokoh ke Dalat ,
(4) Siapakah
individu, kelompok, atau organisasi utama yang berpihak pada masalah ini ?,
(5) Pada tingkat
atau lembaga apa, jika ada, yang bertanggung jawab mengatasi masalah ? apa yang
sedang mereka kerjakan untuk
menangani masalah tersebut?
(b) Menyajikan masalah
secara grafis
Penyajian secara
grafis ini dapat dengan peta, gambar, foto, grafik, karikatur, kartun politik,
judul surat kabar, tabel statistik dan ilustrasi-ilustrasi lainnya yang
dipandang dapat menjelaskan masalah. Ilustrasi tersebut dapat saja berasal dari
sumber cetakan atau dapat juga dibuat oleh tim sendiri.
(c) Identifikasi Sumber Informasi
Panel pertama yang merupakan hasil pekerjaan kelompok
portofolio I juga harus memuat identifikasi sumber-sumber informasi.
Tulislah sumber informasi
tersebut (orang, lembaga, atau bahan cetak).
Hasil pekerjaan kelompok I untuk seksi dokumentasi
diletakkan pada bab I pada portofolio kelas seksi dokumentasi. Bahan-bahan yang didokumentasikan kelompok ini adalah bahan-bahan yang
digunakan untuk menjelaskan masalah.
Misalnya kelompok portofolio I dapat memasukkan pilihan seperti kliping surat kabar dan majalah, laporan tertulis hasil wawancara dengan anggota masyarakat, laporan tertulis
ulasan radio dan televisi tentang
masalah yang dikaji, catatan dari komunikasi dengan kelompok-kelompok dalam masyarakat, atau juga petikan dari sejumlah publikasi
pemerintah dan sebagainya.
(2) Kelompok Portofolio II
Tugas kelompok ini adalah mengkaji kebijakan-kebijakan alternative
untuk mengatasi masalah. Kelompok ini mempersiapkan dua seksi, yaitu untuk
seksi penayangan dan untuk seksi dokumentasi dari portofolio kelas. Hasil
pekerjaan kelompok portofolio dua untuk seksi penayangan dibuat pada panel
kedua, yang harus memuat hal-hal sebagai berikut :
(a) Rangkuman tertulis tentang kebijakan alternatif
Tinjau kembali kebijakan tim peneliti. Tuliskanlah
sejumlah kebijakan alternatif yang berhasil dihimpun, hasil dari berbagai
sumber informasi yang 50 dikumpulkan. Kajilah setiap kebijakan alternatif
tersebut dengan menjawab dua pertanyaan
berikut:
(1) kebijakan apakah
yang diusulkan?,
(2) Apa keuntungan dan kerugian dari kebijakan tersebut?
(b) Menyajikan
kebijakan alternatif secara grafis
Penyajian secara
grafis ini dapat dengan peta, gambar, foto, grafik, karikatur, kartun politik,
judul surat kabar, tabel statistik, dan ilustrasi lainnya yang berkenaan dengan
berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Ilustrasi tersebut dapat
berasal dari sumber cetakan, atau dapat juga dibuat oleh tim sendiri. Setiap
ilustrasi yang diambil dari bahan cetakan, hendaknya mencantumkan sumber resmi.
(c) Identifikasi
Sumber Informasi
Panel kedua yang
merupakan hasil pekerjaan kelompok portofolio dua juga harus memuat identifikasi
sumber-sumber informasi. Tulislah sumber-sumber informasi tersebut (orang,
lembaga, bahan cetak). Hasil pekerjaan kelompok portofolio II untuk seksi
dokumentasi diletakkan pada bab II pada portofolio kelas seksi dokumentasi.
Bahan-bahan yang didokumentasikan kelompok ini adalah bahan-bahan yang
digunakan untuk mengkaji kebijakan-kebijakan alternatif untuk mengatasi
masalah.
Misalnya kelompok portofolio II dapat memasukkan pilihan
seperti halnya kelompok portofolio I
(3) Kelompok Portofolio III
Tugas kelompok ini
adalah mengusulkan kebijakan publik untuk mengatasi masalah. Kebijakan yang
diusulkan harus disetujui oleh mayoritas anggota kelas. Kebijakan yang
diusulkan juga hendaknya tidak bertentangan dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan
negara. Kebijakan publik yang dipilih dapat mendukung salah satu kebijakan
alternatif yang diidentifikasi kelompok portofolio II, memodifikasi salah satu
kebijakan, atau
membuat kebijakan
kalian sendiri. Kelompok ini mempersiapkan dua seksi, yaitu untuk seksi
penayangan dan untuk seksi dokumentasi dari portofolio kelas. Hasil pekerjaan
kelompok
portofolio III untuk
seksi penayangan dibuat pada panel ketiga, yang harus memuat hal-hal sebagai
berikut :
(a) Penjelasan dan
jastifikasi tertulis untuk kebijakan yang diusulkan kelas. Kelompok ini
hendaknya menjelaskan kebijakan yang dipilih dan alasan mendukungnya.
Deskripsikan dalam tulisan seperti berikut:
(1)kebijakan yang
diyakini oleh kelas akan dapat mengatasi masalah,
(2)keuntungan dan kerugian
dari kebijakan tersebut,
(3) menurut pandangan kelas kalian, mengapa kebijakan
tersebut tidak melanggar konstitusi danperaturan perundang-undangan negara?,
(4) Tingkat atau
lembaga pemerintahan mana yang
harus bertanggung jawab untuk menjalankan kebijakan yang kalian usulkan
itu? Mengapa?
(b) Menyajikan
kebijakan publik secara grafis
Penyajian secara
grafis ini dapat dengan peta, gambar, foto, grafik, karikatur, kartun politik,
judul surat kabar, tabel statistik, dan ilustrasi lainnya yang berkenaan dengan
berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Ilustrasi tersebut dapat
berasal dari sumber cetakan, atau dapat juga dibuat oleh tim sendiri. Setiap
ilustrasi yang diambil dari bahan cetakan, hendaknya mencantumkan sumber resmi.
(c) Identifikasi
Sumber Informasi
Panel ketiga yang
merupakan hasil pekerjaan kelompok portofolio III juga harus memuat
identifikasi sumber-sumber informasi. Tulislah sumber-sumber informasi tersebut
(orang, lembaga, bahan cetak). Hasil pekerjaan kelompok portofolio III untuk
seksi dokumentasi diletakkan pada bab III pada portofolio kelas seksi
dokumentasi. Bahan-bahan yang didokumentasikan kelompok ini adalah bahan-bahan
yang digunakan untuk menyusun kebijakan publik yang diusulkan kelas untuk
mengatasi masalah. Misalnya kelompok
portofolio III dapat memasukkan pilihan seperti halnya kelompok
portofolio lainnya.
(4) Kelompok Portofolio IV
Tugas kelompok IV adalah membuat rencana tindakan.
Rencanatindakan ini hendaknya mencakup langkah-langkah yang dapat diambil agar kebijakan yang
diusulkan diterima dan dilaksanakan oleh pemerintah. Seluruh kelas hendaknya terlibat dalam membuat rencana
tindakan ini, tetapi kelompok IV akan
menjelaskan rencana tindakan dalam panel keempat seksi keempat seksi penayangan dan bab keempat seksi dokumentasi.
Hasil pekerjaan
kelompok portofolio empat untuk seksi penayangan yang ditayangkan pada panel
keempat, harus memuat hal-hal sebagai berikut :
(a) Penjelasan
tertulis bagaimana kelas dapat menumbuhkan dukungan pada individu dan kelompok
pada masyarakat terhadap rencana tindakan yang diusulkan. Pastikan untuk
melakukan hal-hal sebagai berikut :
(1) mendeskripsikan individu dan
kelompok yang berpengaruh dalam masyarakat yang mungkin hendak mendukung
rencana tindakan kelas. Gambarkan secara ringkas bagaimana kelas dapat
memperoleh dukungan mereka,
(2) mengidentifikasi kelompok di
masyarakat yang menentang rencana tindakan kelas. Jelaskan bagaimana kalian
dapat meyakinkan mereka untuk mendukung rencana
tindakan kelas.
(b) Menyajikan rencana tindakan secara grafis
Penyajian secara
grafis ini dapat dengan peta, gambar, foto, grafik, karikatur, kartun politik,
judul surat kabar, tabel statistik, dan ilustrasi lainnya yang berkenaan dengan
berbagai kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Ilustrasi tersebut dapat
berasal dari sumber cetakan, atau dapat juga dibuat oleh tim sendiri. Setiap
ilustrasi yang diambil dari bahan cetakan, hendaknya mencantumkan sumber resmi.
(c) Identifikasi
Sumber Informasi
Panel keempat yang
merupakan hasil pekerjaan kelompok portofolio IV juga harus memuat identifikasi
sumber-sumber informasi. Tulislah sumber-sumber informasi tersebut (orang,
lembaga, bahan cetak).
Hasil pekerjaan
kelompok portofolio IV untuk seksi dokumentasi diletakkan pada portofolio kelas
seksi dokumentasi. Bahan-bahan yang didokumentasikan kelompok ini adalah
bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun rencana tindakan yang diusulkan kelas. Misalnya kelompok IV dapat memasukkan pilihan seperti halnya
kelompok portofolio lainnya.
g) Guru menutup
pelajaran
3) Pelaksanaan
pembelajaran pada pertemuan ketiga
Hari / Tanggal : RAbu, 13 Februari 2019
Waktu : Jam III dan IV (09 .15 – 10.25 WIB)
Tempat : Ruang Kelas
IX-B
a) Guru terlebih
dahulu meneliti tingkat kesiapan siswa, mengecek absensi siswa serta
mengondisikan kelas agar pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif.
b) Guru menanyakan
tugas pertemuan yang lalu.
c) Guru membimbing
siswa untuk mengkaji, memilah, dan merumuskan temuan / hasil pencarian
informasi/ data.
d) Guru membimbing
siswa untuk menyusun / membuat portofolio tayangan dandokumentasi
e) Guru menjelaskan
aturan main dalam penyajian portofolio kelas.
f) Guru dan siswa
berdiskusi merencanakan dan mempersiapkan pelaksanaan
show-case.
g) Guru menutup pelajaran.
4) Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan keempat
Hari / Tanggal : Kamis , 14 Februari 2019
Waktu : Jam V dan IV (09.15 – 10.25 WIB)
Tempat : Ruang Kelas
IX-B
a) Guru menanyakan
kesiapan siswa.
b) Guru dibantu oleh
siswa mempersiapkan ruang untuk presentasi portofolio kelas.
c) Guru memberikan
penjelasan kepada juri tentang tugas-tugasnya.
d) Guru bertindak
sebagai moderator, mempersilahkan dewan juri (guru lain atau undangan) untuk
mengamati portofolio kelas, baik tayangan maupun dokumentasinya.
e) Guru memimpin acara
ini diawali dengan mempersilahkan kelompok I untuk menyajikan secara lisan
portofolionya kurang lebih selama lima menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab
kurang lebih selama sepuluh menit. Demikian
selanjutnya sampai dengan kelompok IV.
f) Setelah semua
kelompok selesai mempresentasikan hasil karyanya, guru memberikan ulasan
tentang materi yang di diskusikan tadi, dan apa saja kekurangan serta kelebihannya.
g) Guru bersama siswa
menyimpulkan inti materi.
Sebagai refleksi diri siswa, bagaimanakah langkah yang harus mereka perbuat
kedepan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme walaupun dalam era globalisasi.
c. Pengamatan
(Observing)
Pengamatan dilakukan
bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini peneliti disamping
berperan sebagai guru juga berperan sebagai pengamat. Hal ini disebut dengan participant
observation. Selain itu peneliti juga dibantu oleh guru sejarah yang sebenarnya
mengajar pada kelas tersebut untuk melakukan pengamatan terhadap cara mengajar
peneliti dan reaksi siswa yang mengikuti pelajaran. Pada pengamatan siklus
I ini dijumpai beberapa kekurangan diantaranya sebagai berikut.
1) Pengamatan terhadap
pelaksanaan pembelajaran di kelas.
a) mengelola ruang,
waktu, dan fasilitas belajar
(1) Sumber belajar,
dalam hal ini artikel yang dibagikan pada siswa kurang, sehingga mengganggu
proses belajar.
(2) Pengaturan waktu
kurang efisien.
(3) Kemampuan
pemberian bimbingan secara keseluruhan belum seimbang.
b) Menggunakan
strategi pembelajaran
(1) Penguasaan materi
pelajaran baik.
(2) Penyampaian materi
pelajaran cukup.
(3) Penggunaan metode
pembelajaran cukup
(4) Keterampilan dalam
mengadakan variasi mengajar cukup.
(5) Pemberian
bimbingan masih kurang menyeluruh terhadap siswa.
Kegiatan pengamatan
dan pelaksanaan tindakan dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Sambil
melaksanakan tindakan, peneliti mengamati dan mencatat sedikit demi sedikit apa
yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya
(Arikunto,
dkk 2006:19). 57
(6) Kemampuan
mengoordinasi kelas cukup.
(7) Guru sudah baik
dalam memotivasi siswa.
(8) Guru dalam
mengaktifkan siswa cukup.
(9) Guru dalam
merespons pertanyaan siswa cukup.
(10) Dalam membagi
kelas dalam beberapa kelompok guru kurang
efektif, karena
pembagian kelompok dengan jumlah anggota yang banyak akan menimbulkan kegaduhan
dan siswa tidak bisa terpusat pada tugasnya masing-masing.
(11) Dalam memberikan
kesimpulan sudah baik.
2) Pengamatan terhadap
siswa
a) Kesiapan siswa
untuk menerima pelajaran masih kurang.
b) Suasana
pembelajaran kurang kondusif.
c) Keantusiasan siswa
dalam mengikuti pelajaran belum tercermin.
d) Keberanian siswa
dalam mengemukakan pendapat belum terlihat.
e) Kemampuan siswa
dalam bertanya masih kurang.
f) Masih banyak siswa
yang terlihat tegang sehingga siswa takut menjawab pertanyaan yang diberikan
oleh guru.
d. Refleksi
(Reflecting)
Pada pelaksanaan
siklus I masih banyak kekurangan yang terjadi, maka langkah selanjutnya
peneliti mengadakan refleksi diantaranya sebagai berikut. Tahap keempat
merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan.
Kegiatan refleksi ini
sangat tepat dilakukan ketika peneliti selesai melakukan tindakan (Arikunto,
dkk 2006:19). 58
1) Mengatur waktu
sebelum mulai pelajaran, mempersiapkan pokok bahasan yang diajarkan agar waktu
dapat digunakan secara efektif dan efisien.
2) Membuat suasana
yang lebih enak agar siswa berani mengemukakan pendapat, berani bertanya, serta
dapat berpikir kritis.
3) Sebelum membuat
empat kelompok besar dalam tugas pembuatan portofolio kelas, sebaiknya guru
membuat beberapa kelompok kecil dulu agar mereka dapat menjalankan tugas secara
efektif dan efisien, dan tidak terjadi kegaduhan di dalam kelas. Sesudah tugas
itu dibagi dalam kelompok kecil, selanjutnya kelompok-kelompok tersebut
bergabung menjadi empat kelompok besar untuk mengerjakan portofolio tayangan
dan dokumentasi.
4) Guru memberikan bimbingan secara individual bagi siswa
yang belum memahami tugasnya.
5) Sedikit mengubah variasi belajar dengan lebih banyak
melibatkan siswa agar
mereka lebih terfokus
pada penjelasan materi.
2. Pelaksanaan Siklus II
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan pada
siklus II dilakukan dengan mengidentifikasi masalah serta menyiapkan kegiatan
yang akan dilaksanakan pada siklus II berdasarkan dari hasil refleksi pada
siklus I.
1) Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan rumusan masalah.
2) Menyiapkan alat
pembelajaran bagi siswa yaitu artikel tentang materi dalam jumlah yang sesuai
dengan kebutuhan kelas.
3) Mengatur alokasi
waktu agar sesuai dengan target yang telah ditentukan.
4) Menentukan pokok
bahasan yang akan dijadikan materi bahasan pada
penelitian.
5) Mengembangkan skenario pembelajaran.
b. Tindakan (Acting)
Kegiatan pada siklus II dilaksanakan sama seperti pada
siklus sebelumnya yaitu dalam 4 kali pertemuan. Perbedaannya terletak pada
permasalahan yang akan dibahas dalam setiap kelompok.
1) Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan pertama
Hari / Tanggal : Rabu , 20 Februari 2019
Waktu : Jam III dan IV (09.15 – 10.25 WIB)
Tempat : Ruang Kelas IX-B
a) Pada awal kegiatan guru selalu menanyakan kesiapan
siswa serta serta pemahaman tentang materi yang telah diberikan sebelumnya.
b) Dengan pembelajaran
yang sama guru melanjutkan menerangkan materi
tentang
peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi.
c) Selesai menerangkan
dan siswa sudah terlihat paham, guru mempersilahkan siswa untuk mengemukakan
pendapat tentang persoalan-persoalan yang akan dibahas dalam diskusi kelompok.
Siklus II
Permasalahan Jumlah
1. Apa yang
melatarbelakangi perbedaan pendapat antara
golongan tua dan golongan muda serta sikap kita dalam
menyikapi adanya perbedaan pendapat.
2. Apa tujuan pemanggilan 3 tokoh ke Dalat
3. tokoh –tokoh yang berperan dalam perumusan teks proklamasi
4. Kegiatan dalam pelaksanaan
proklamasi
d) siswa dibagi ke dalam empat kelompok
e) Guru menutup
pelajaran.
2) pelaksanaan
pembelajaran pada pertemuan yang kedua
Hari / Tanggal : Kamis , 21 Februari
2019
Waktu : Jam V dan VI (10.35 WIB – 12.05 WIB)
Tempat : Ruang Kelas
IX-B
a) Guru terlebih
dahulu meneliti tingkat kesiapan siswa, mengecek absensi siswa serta mengondisikan
kelas agar pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif.
b) Setelah pada
pertemuan yang lalu telah disetujui bersama tentang permasalahan yang akan
dibahas pada diskusi
di kelas,
sekarang masing- masing diberi sumber
bacaan sebagai wacana / sumber dalam menjawab atau mencari solusi sementara
terhadap isu/ masalah yang telah disampaikan siswa.
c) Guru bersama siswa berdiskusi
untuk mencari solusi sementara tentang masalah yang telah dikemukakan siswa
d) Guru membimbing siswa untuk menentukan sumber-sumber
informasi berkenaan.
e) Setelah sebelumnya
siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing
diberikan tugas sebagai berikut :
Kelompok I . Pemanggilan 3 tokoh ke Dalat,
Vietnam
Kelompok II . Peristiwa Rengas dengklok
Kelompok III . Perumusan Teks proklamasi
Kelompok IV. Pelaksanaan proklamasi.
f) Guru bersama siswa
berdiskusi tentang tugas-tugas yang harus dilakukan
siswa di luar kelas
antara lain mengumpulkan data melalui pencarian data dari
buku, artikel, koran, majalah dan internet.
g) Guru menutup
pelajaran
3) Pelaksanaan
pembelajaran pada pertemuan yang ketiga
Hari / Tanggal : Rabu, 27 Februari 2019
Waktu : Jam III dan IV (10.35 – 12.05
WIB)
Tempat : Ruang Kelas
IX
a) Guru terlebih
dahulu meneliti tingkat kesiapan siswa, mengecek absensi siswa
serta mengondisikan
kelas agar pembelajaran dapat berlangsung secara kondusif.
b) Guru menanyakan
tugas pertemuan yang lalu.
c) Guru membimbing
siswa untuk mengkaji, memilah, dan merumuskan temuan hasil pencarian informasi/
data.
d) Guru membimbing
siswa untuk menyusun / membuat dokumentasi
e) Guru menjelaskan
aturan main dalam penyajian dokumen di kelas.
f) Guru dan siswa
berdiskusi merencanakan dan mempersiapkan uraian dokumentasi
g) Guru menutup pelajaran.
4) Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan yang keempat
Hari / Tanggal : Kamis, 28 Februari 2019
Waktu : Jam V dan VI (10.25 – 12.00 WIB)
Tempat : Ruang Kelas IX-B
a) Guru menanyakan kesiapan siswa.
b) Guru dibantu oleh siswa mempersiapkan ruang untuk
presentasi portofolio kelas.
c) Guru dan siswa bertindak sebagai moderator, mempersilahkan
dewan juri (guru lain atau undangan) untuk mengamati portofolio kelas, baik
tayangan maupun dokumentasinya.
d) Guru memimpin acara ini diawali dengan mempersilahkan
kelompok I untuk menyajikan secara lisan portofolionya kurang lebih selama lima
menit dan dilanjutkan dengan tanya jawab dengan juri kurang lebih selama sepuluh
menit. Demikian selanjutnya sampai dengan kelompok IV.
e) Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil
karyanya, guru memberikan ulasan tentang show-case tadi, dan apa saja
kekurangan serta kelebihannya.
f) Guru bersama siswa menyimpulkan inti tema portofolio. Dan bersama-sama siswa
melakukan refleksi diri.
g) Guru menutup
pelajaran dan menyampaikan terima kasih atas partisipasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT
c. Pengamatan (Observation)
Berkat perubahan-perubahan yang telah dilakukan ternyata
mendapat hasil yang sangat memuaskan. Pada siklus II ini siswa terlihat semakin aktif
dalam mengikuti pelajaran serta dalam
membuat tugas portofolionya. Suasana
pembelajaran
semakin kondusif dan rasa tanggung jawab siswa terhadap tugas- tugasnya semakin meningkat. Kesan umum pengamatan
terhadap pembelajaran pada siklus II ini
sudah baik, sehingga penelitian dapat dihentikan sampai pada siklus II.
d. Refleksi
(Reflection)
Setelah melihat hasil
penilaian dari dewan juri portofolio yang cukup baik dan pengamatan terhadap
kegiatan siswa secara keseluruhan, peneliti menyimpulkan bahwa penelitian
dihentikan sampai pada siklus II, karena hasil belajar sudah memenuhi target
penelitian yaitu mengalami peningkatan. Peneliti berharap dan akan berupaya
untuk terus meningkatkan serta menggunakan cara- cara yang sudah peneliti
tempuh untuk materi lainnya, tentunya disesuaikan dengan materi yang akan
diajarkan.
B. Pembahasan
Setelah diadakan
penelitian yang terdiri dari dua siklus dan ditempuh dalam 5 kali pertemuan dengan alokasi waktu 18 jam pel ajaran diperoleh hasil sebagai berikut.
a. Partisipasi siswa
dalam proses belajar mengajar dalam 2 siklus terjadi perubahan yang sangat besar.
b. Partisipasi siswa dalam
menyerap materi pelajaran
Dalam penelitian ini,
penerapan model pembelajaran NHT, terdapat perubahan nilai . lebih banyak yang
tuntas. Dimaksudkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dapat diketahui gambaran pertumbuhan prestasi belajar siswa selama proses
pembelajaran. Hasil tersebut menujukkan bahwa pada siklus I, rata-rata persentase
daya serap siswa terhadap materi pelajaran termasuk dalam kategori cukup baik yaitu sebesar 70 %. Walaupun termasuk dalam kategori cukup baik, akan tetapi
peningkatan tersebut masih sangat kecil.
Peningkatan prestasi
belajar siswa pada siklus I yang relatif kecil ini disebabkan karena
pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis portofolio merupakan hal baru
bagi siswa, yang sebelumnya pembelajaran didominasi oleh metode ceramah. Dalam
pembelajaran dengan metode ceramah tersebut, siswa tidak dilibatkan secara aktif dan kreatif dalam
proses pembelajarannya, dan aktifitas siswa cenderung hanya mendengarkan dan
mencatat. Kurangnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan berdampak
pada hasil belajarnya, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Hal ini sesuai dengan pendapat Biggs dan Telfer
(1994:228) salah satu hal yang berpengaruh pada kegiatan belajar adalah pengalaman.
Karena siswa belum pernah mempunyai pengalaman melakukan kegiatan yang ada
dalam model pembelajaran berbasis portofolio, maka mereka merasa kesulitan
dalam melakukan kegiatan tersebut.
Selain itu, menurut
Dewey dalam Sardiman (2005:97), bahwa aktifitas sangat diperlukan dalam
belajar. Tanpa adanya aktivitas, proses belajar tidak mungkin berlangsung
dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan hasil belajar pada siklus I belum
memenuhi indikator ketuntasan belajar klasikal. Berdasarkan hal tersebut, maka
diadakan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus II,
antara lain dengan menambah variasi kegiatan dalam mengatasi suatu masalah yang
telah diambil kelas dan membagi kelas menjadi kelompok kecil terlebih dahulu sebelum
mereka dibagi menjadi empat kelompok besar dalam satu kelas agar siswa lebih
mempunyai tanggung jawab terhadap tugas-tugasnya dan tidak menggantungkan diri
kepada anggota kelompok yang lain. Rata-rata persentase daya serap siswa
terhadap materi pelajaran pada siklus II mengalami peningkatan bila
dibandingkan dengan siklus I, yaitu sebesar 85,5 % dan termasuk dalam kriteria
sangat baik
. Hal ini
menunjukkan telah terjadi perubahan pada siswa ke arah yang lebih baik, karena
siswa telah mengalami suatu proses belajar sehingga prestasi belajar mereka
menjadi meningkat. Menurut Winkel (1991:162) “prestasi adalah bukti
keberhasilan usaha yang dicapai”.
Adanya peningkatan
persentase daya serap siswa terhadap materi pelajaran menunjukkan bahwa dengan
menerapkan model pembelajaran NHT, dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini menunjukkan bahwa melalui
model pembelajaran NHT,
siswa akan mengalami proses
belajar yang efisien dalam arti siswa tidak akan memperoleh ilmu pengetahuan yang
statis dan otoriter, melainkan siswa diharapkan akan memperoleh kesempatan
untuk mengembangkan berbagai keterampilan yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotorik, sesuai dengan apa yang dikatakan Budimansyah (2002:1) Sebagai
suatu proses sosial pedagogis, portofolio adalah collection of learning
experience yang terdapat di dalam pikiran siswa baik yang berwujud pengetahuan
(kognitif), keterampilan (skill), maupunnilai dan sikap (afektif).
Berdasarkan penerapan model
pembelajaran Numbered Heads Together
(NHT) berbasis
Kurikulum 2013 hasil yang di dapatkan mengalami peningkatan pada siklus I, data
yang
diperoleh dari penilaian keterampilan (psikomotor) yang diambil pada saat
kegiatan
pembelajaran pada siklus I diperoleh 22 siswa atau 70,97% mempunyai nilai
keterampilan
tuntas dan 9 siswa atau 29,03% mendapatkan nilai tidak tuntas. Sedangkan
penilaian dari
sikap yang diambil pada saat kegiatan pembelajaran pada siklus I, hasil
penilaian afektif
yang ditunjukkan dari 31 siswa yang sudah menunjukkan sikap disiplin ada 20
orang,
tanggung jawab 20 orang, percaya diri 18 orang, jujur 17 orang, sopan 31 orang
dan peduli
ada 20 orang, sedangkan siswa yang belum menunjukkan penilaian sikap disiplin
ada 11
orang, tanggung jawab 11 orang, percaya diri 13 orang, jujur 14 orang, sopan 0
dan peduli
ada 11 orang..
Berdasarkan penilaian hasil
belajar yang dilakukan setelah pembelajaran
berlangsung selama tiga kali pertemuan melalui tes akhir pada mata pelajaran
IPS
diperoleh hasil sebagai
berikut: nilai tertinggi 85,
nilai terendah 40, nilai rata-rata 70,83.
Masih ada 10 siswa yang
mendapat nilai di bawah ketuntasan belajar minimal (KKM).
Analisis hasil belajar siswa pada IPS
diperoleh rata-rata 70, nilai tertinggi 85, nilai terendah 40 ketuntasan
belajar siswa 26 siswa arata rata 70,83%.
Berdasarkan
kekurangan-kekurangan pada siklus I dan dilakukan perbaikan pada siklusII,
setelah melakukan penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT )berbasis Kurikulum 2013 terjadi peningkatan penilaian keterampilan
(psikomotor) sepertiyang ditunjukkan data yaitu, 30 siswa atau 96,78% mempunyai
nilai keterampilan tuntas dan1 siswa atau 3,22% mendapatkan nilai tidak tuntas.
Sedangkan penilaian dari sikap yang diambil
pada saat kegiatan pembelajaran pada siklus II, hasil penilaian afektif
yangditunjukkan dari 31 siswa yang sudah menunjukkan sikap disiplin ada 29
orang, tanggungjawab 27 orang, percaya diri 26 orang, jujur 26 orang, sopan 31
orang dan peduli ada 27orang, sedangkan siswa yang belum menunjukkan penilaian
sikap disiplin ada 2 orang,tanggung jawab 4 orang, percaya diri 5 orang, jujur
5 orang, sopan 0 dan peduli ada 4orang. Berdasarkan
data penilaian tentang hasil belajar yang dilakukan setelah
pembelajaranberlangsung selama tiga kali pertemuan melalui tes akhir pada mata
pelajaran IPS diperoleh hasil sebagai berikut: nilai tertinggi 90, nilai terendah
60, nilai rata-rata 76,94
Masih ada 3 siswa yang mendapat nilai di bawah ketuntasan belajar minimal
(KKM).
Analisis hasil belajar siswa pada IPS diperoleh rata-rata 76,94, nilai
tertinggi 90, Nilai terendah 60 ketuntasan belajar siswa 33 siswa 90 %.
Adanya peningkatan
persentase daya serap siswa terhadap materi pelajaran tersebut menunjukkan
bahwa indikator kinerja atau indikator keberhasilan dalam penelitian ini telah
tercapai.
C. Komparasi Hasil
Penelitian
Perbandingan hasil
penelitian pra siklus, siklus I, siklus II setelah dilakukan pengamatan
saat proses kegiatan pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1. Perbandingan Nilai Kognitif Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II
|
Rentang Nilai
|
Pra Siklus
|
Siklus I
|
Siklus II
|
|
|
Presentase%
|
Frekuensi
|
Presentase%
|
Frekuensi
|
Presentase%
|
Frekuensi
|
|
40-45
|
25,81
|
8
|
2.77
|
1
|
0,00
|
0
|
|
55-69
|
19,35
|
18
|
27,77
|
10
|
11,11
|
4
|
|
70-84
|
29,03
|
10
|
61,11
|
22
|
61,11
|
22
|
|
85-100
|
25,81
|
-
|
8,33
|
3
|
27,77
|
10
|
|
Jumlah
|
100
|
36
|
100
|
36
|
100
|
36
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai Rata Rata
|
68.55
|
|
70,83
|
|
|
76,94
|
|
Nilai tertinggi
|
82
|
|
85
|
|
|
90
|
|
Nilai terendah
|
35
|
|
40
|
|
|
60
|
Berdasarkan data di atas pada siklus I ada kenaikan Nilai siswa
Kelas IX-B
Berdasarkan hasil refleksi
mulai dari pra siklus, siklus I sampai siklus II dengan
penerapan model pembelajaran Numbered
Heads Together (NHT) berbasis
Kurikulum 2013
pada mata pelajaran IPS dapat
meningkatkan hasil belajar psikomotor, afektif dan kognitif,
memberikan kesempatan siswa untuk lebih memanfaatkan segala kegiatan yang
dilakukan
pada saat pembelajaran dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitaian
ini, peneliti
menerapkan model pembelajaran Numbered
Heads Together (NHT) berbasis
Kurikulum
2013 dengan langkah-langkah sebagai berikut: guru memberikan nomor kepala
sebagai
tanda pengenalnya. Dalam pembelajaran ini siswa diberikan tugas untuk
dikerjakan,
kemudian di diskusikan secara bersama dan memilih jawaban yang di anggap paling
benar.
Dalam proses pembelajaran ini guru hanya memfasilitasi kebutuhan dalam proses
belajar
mengajar sehingga siswa mendapatkan jawaban dari materi yang diajarkan. Guru
dalam hal
ini bukanlah satu-satunya sumber informasi, te tetapi siswa pada saat
melakukan kegiatan
diskusi akan menentukan jawaban yang di anggap paling benar
sesuai dengan pemikiran
mereka sendiri. Setelah kegiatan pembelajaran model
pembelajaran Numbered Heads
Together (NHT) berbasis Kurikulum 2013
dilanjutkan dengan penunjukkan siswa yang
dilakukan oleh guru.
Guru menunjuk siswa secara acak kemudian siswa tersebut
diminta
maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil diskusinya
bersama kelompok sesuai
tugas yang diberikan guru tadi. Kegiatan menunjuk secara acak
sesuai nomer kepala yang
diberikan guru sebelumnya bertujuan untuk melatih kesiapan
siswa supaya pada saat
melakukan diskusi siswa tidak ramai sendiri dan fokus pada
tugas sehingga siswa juga akan
memahami materi dengan baik. Selanjutnya guru menunjuk nomor
kepala lain untuk
mempresentasikan hasil yang sudah didiskusikan tadi untuk
membandingkan antara jawaban
siswa yang satu dengan yang lainnya untuk di komunikasikan di
depan kelas untuk melatih
keterampilan bicara, praktik dan sebagainya agar siswa lebih
percaya diri. Siswa yang belum
maju ke depan kelas juga sudah memiliki sikap yang baik yaitu
menunggu dengan penuh
kesiapan dan juga tidak ramai serta disiplin.
Model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
berbasis Kurikulum 2013
membuat siswa menjadi lebih memahami materi. Siswa juga
melakukan kegiatan
berkelompok dengan sangat baik, siswa yang belum memahami
jawaban yang di anggap
paling benar akan dibantu teman kelompoknya sehingga mereka
semua mengerti dan siap
ketika guru ingin menunjuk secara acak. Siswa di dalam
kelompok menunjukkan sikap yang
baik ketika temannya belum mengerti akan jawaban yang
dipilih, anggota lainnya membantu
menjelaskan dan membantunya sehingga di dalam kelompok
terjalin ikatan yang bagus.
Hasil belajar pada siklus I terdapat peningkatan mulai dari
pra siklus, siklus I, maupun
siklus II. Siklus I merupakan uapaya perbaikan dari pra
siklus, begitupun siklus II merupakan
perbaikan dari refleksi siklus I. Pada siklus II terdapat
kenaikan hasil belajar apabila
dibandingkan dengan pra siklus dan siklus I
. Hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti dari hasil belajar siswa
pada pra siklus hanya terdapat 17 siswa yang memperoleh nilai ketuntasan (54.84%),
siklus I naik menjadi 25
siswa yang mendapat nilai ketuntasn (70.83%), dan siklus II mencapai 32 siswa mendapat nilai ketuntasan 76.94%). Presentase
hasil belajar siswa yang belum tuntas pada pra siklus adalah 14 siswa (45.16%),
siklus I terdapat 1 siswa (25.81%) dan
siklus II sudah tidak ada lagi nilai siswa dibawah KKM. Hasil belajar yang
diperoleh mengalami kenaikan dari siklus I.
Model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
dapat meningkatkan hasil belajar, hal ini sesuai dengan hasil penelitian Jamalong (2012) bahwa hasil belajar
siswa kelas XA sesudah dilaksanakan tindakan dengan
Model Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini
dapat dilihat dari nilai Post Test siswa
setelah dilaksanakan siklus 1 dan siklus 2 menunjukkan adanya peningkatan.
Pada siklus 2
indikator keberhasilan yang ditentukan dapat tercapai,
sebanyak 20 siswa (54,82%) sudah
mencapai ketuntasan dalam belajar, nilai minimal yang
diperoleh siswa 64, dan nilai
maksimal yang diperoleh siswa 90 dari KKM yang ditetapkan,
yaitu 70. Menurut Suandewi
& Wibawa (2017) rata-rata persentase hasil belajar pada
pra siklus sebesar 62,57% berada
pada kategori rendah dan meningkat pada siklus I menjadi
72,70% berada pada kategori
sedang. Terjadi peningkatan dari hasil refleksi awal ke siklus
I sebesar 10,13%. Setelah
dilaksanaka perbaikan tindakan pada siklus II rata-rata
persentase hasil belajar menjadi
85,13% berada pada kategori tinggi. Terjadi peningkatan
rata-rata persentase hasil belajar
IPA dari siklus I ke siklus II sebesar 12,43%. Sedangkan
Adnyana , Sumantri, & Suwatra
(2014) terlihat dari adanya peningkatan persentase rata-rata
hasil belajar siswa dari 65,80%
atau berada pada kategori cukup dengan ketuntasan belajar
sebesar 58,06% pada siklus I
menjadi 73,50% atau berada pada kategori baik pada siklus II
dengan ketuntasan belajar
sebesar 83,87%. Adapun persentase peningkatan rata-rata hasil
belajar dari siklus I ke siklus
II sebesar 8,02%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
penggunaan model
pembelajaran Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil
belajar
Berdasarkan hasil penelitian mengenai penggunaan model
pembelajaran Numbered
Heads Together (NHT) di atas, terdapat kesamaan
yaitu peningkatan hasil belajar siswa
menggunakan model pembelajaran Numbered
Heads Together (NHT). Hasil belajar akan
lebih meningkat jika menggunakan model pembelajaran yang
berbeda yaitu model
pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)
berbasis Kurikulum 2013.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SMP Negeri 1 Simanindo Kabupaten Samosir
pada siswa kelas IX –B tahun pelajaran 2018/2019 dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT dapat diketahui penigkatan prestasi
belajar yang diperoleh siswa pada siklus I yaitu nilai rata-rata kelas 70,83 menjadi bertambah pada siklus II, nilai rata-rata
kelas mencapai 76,94. Dari uraian pada bab
sebelumnya, dapat diambil simpulan sebagai berikut.
1. Prestasi
belajar IPS pada siswa kelas IX -B SMP
Negeri 1 Simanindo Kabupaten Samosir sebelum
diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe
NHT, mempunyai
nilai rata-rata kelas 66. Pada saat model pembelajaran dirubah dari model
ceramah menjadi kooperatif tipe NHT, prestasi belajar siswa meningkat menjadi 70,83 pada siklus
I dan 76, 94 pada siklus II.
2. Penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam
penelitian ini terdiri dari dua siklus. Dalam hal ini kelas dibagi menjadi
empat kelompok yang mempunyai tugas masing-masing untuk membahas persoalan yang telah disepakati oleh kelas. Hasil pekerjaan mereka
berupa portofolio
yang nantinya akan mereka presentasikan di depan guru dan siswa satu kelas.
B. Saran
Setelah melaksanakan penelitian, saran yang dapat penulis ajukan adalah sebagai berikut.
1. Variasi
model pembelajaran diperlukan oleh guru untuk menghindari kejenuhan siswa.
2. Perlu
diadakannya sosialisasi model pembelajaran model koopearitf tipe NHT yang tergolong baru di Indonesia agar para tenaga pengajar bisa
memahami dan dapat menerapkan secara baik di lapangan.
DAFTAR
PUSTAKA.
Kunandar. 2008. Langkah Mudah
Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Manurung, M. 2008. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Gramedia.
Mulyasa, E. 2009. Praktik
Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Purwanto, M. Ngalim. 2002. Psikologi
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Ridwan, Sa’adah. 2002. Penelitian
Tindakan Kelas Bagi Guru. Bandung:Basic Education Project.
Yuanita, Eva. (2011). Model
Pembelajaran Number Heads Together, (Online). Tersedia: http://rumahdesakoe.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-numbered-heads.html.
(3Mei 2011).
Nardi. (2011). Pembelajaran Number
Head Together, (Online). Tersedia: http://nardishome.blogspot.com/2011/04/pembelajaran-numbered-head-together-nht.html.
(18 April 2014).
Suharya, Toto. 2016. http://www.diaguru.com. (20 Agustus 2016)