Jumat, 10 Maret 2023

UDL( Universal Desain for Learning)

                                         Universal Design for Learning

#GBBUDL #gtkdikmendiksus #kemdikbudristekdikti

  

1. Pengertian

 UDL adalah sebuah konsep pendidikan atau pendekatan untuk merancang metode pembelajaran, bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan prosedur evaluasi pembelajaran dalam upaya untuk membantu peserta didik dengan karakteristik dan kebutuhan belajar yang beragam.

 UDL adalah kumpulan konsep untuk yang digunakan dalam pengembangan kurikulum yang bertujuan untuk memberi kesempatan yang sama semua individu untuk dapat belajar dengan baik. UDL menuntun suatu perbuatan hasil pembelajaran, sumber daya, dan sistem penilaian yang sesuai untuk semua orang

Pengertian UDL

UDL adalah sebuah pendekatan yang didasari serta didukung oleh hasil-hasil penelitian di bidang ilmu saraf dan juga dirancang untuk dapat meningkatkan pengalaman-pengalaman dan hasil belajar bagi semua peserta didik, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus/ penyandang disabilitas, peserta didi yang berasala dari latar belakang budaya dan sosial ekonomi yang berbeda, peserta didik usia anak-anak hingga usia dewasa.

UDL adalah suatu pendekatan yang sangat penting dalam pendidikan karena: 

Peserta didik memiliki gaya dan kebutuhan belajar yang bervariasi 

Ada peserta didik yang sangat senang membaca, di sisi lain ada peserta didik yang termotivasi membaca jika menggunakan alat peraga atau diperankan agar terangsang representasi visual dari idenya. Intinya adalah peserta didik belajar dengan gaya yang berbeda-beda tergantung tujuan dan tujuannya.

Peserta didik dapat menggunakan berbagai perangkat dan teknologi

Ada peserta didik yang mengerjakan tugas hanya cukup menggunakan pena dan kertas saja. Di sisi lain ada peserta didik harus menggunakan materi pembelajaran melalui laptop atau smartphone mereka untuk merangsang pembelajaran. Pastinya kebutuhan peserta didik btidak samaerbeda-beda tergantung pada akses dan kemampuan mereka.

Peserta didik memiliki keadaan pribadi yang bervariasi 

Ada sebahagian peserta didik yang harus dekat dan mendapatkan dukungan dari keluarganya. Di sisi lain ada beberapa peserta didik yang ingin jauh dari keluerga dan tinggal di asrama. Kebutuhan mereka bervariasi berdasarkan keinginan yang berbeda-beda.


tiga prinsip panduan UDL, yaitu

The What of Learning/Representasi: 

Merekomendasikan penawaran informasi dalam lebih dari satu format. Misalnya, buku pelajaran terutama visual. Tetapi menyediakan teks, audio, video dan pembelajaran langsung memberi semua anak kesempatan untuk mengakses materi dengan cara apa pun yang paling cocok dengan kekuatan belajar mereka 

 

The Why of Learning /Engagement/Keterlibatan:

Pembelajaran relevan dengan kebutuhan dan keinginan siswa dan melibatkan semua siswa. 

The How of Learning/Action & Expression:

Memberi anak-anak lebih dari satu cara untuk berinteraksi dengan materi dan menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Sebagai contoh, siswa mungkin dapat memilih antara mengambil tes tulis, presentasi lisan atau melakukan proyek kelompok.

 

arti per kata dari Universal Design for Learning;

Universal
Ini berarti bahwa semua peserta didik tanpa terkecuali wajib dididik dan diajarkan secara maksimal mencakup siswa dari semua tingkat akademis.

Design

Ini berarti sesuatu pekerjaan yang dilakukan dengan sengaja, direncanakan, dan terencana dengan konsep fleksibilitas untuk peserta didik.

Ini berarti bahwa seorang guru juga diwajibkan merancang lingkungan belajar bagi mereka dengan maksud agar semua peserta didik dapat mengakses. 

Learning

Ini berarti bahwa semua peserta didik dituntut dan diberikan dukungan dan layanan agar peserta didik dapat tumbuh dan berkembang menjadi seorang ahli sebagai pelajar.

Pendekatan UDL ini sangat cocok untuk semua individu karena di dalamnya terkadapat strategi dan solusi. UDL adalah pendekatan yang fleksibel yang dirancang agar dapat menyesuaikan agar dapat memenuhi kebutuhan setiap individu peserta didik.


UDL adalah suatu pendekatan yang sangat penting dalam pendidikan karena: 

Peserta didik memiliki gaya dan kebutuhan belajar yang bervariasi 

Ada peserta didik yang sangat senang membaca, di sisi lain ada peserta didik yang termotivasi membaca jika menggunakan alat peraga atau diperankan agar terangsang representasi visual dari idenya. Intinya adalah peserta didik belajar dengan gaya yang berbeda-beda tergantung tujuan dan tujuannya.


Peserta didik dapat menggunakan berbagai perangkat dan teknologi

Ada peserta didik yang mengerjakan tugas hanya cukup menggunakan pena dan kertas saja. Di sisi lain ada peserta didik harus menggunakan materi pembelajaran melalui laptop atau smartphone mereka untuk merangsang pembelajaran. Pastinya kebutuhan peserta didik btidak samaerbeda-beda tergantung pada akses dan kemampuan mereka.

Peserta didik memiliki keadaan pribadi yang bervariasi 

Ada sebahagian peserta didik yang harus dekat dan mendapatkan dukungan dari keluarganya. 

 

Kamis, 09 Maret 2023

Menyebarkan Pemahaman Merdeka Mengajar

 



                                                              MERDEKA BELAJAR

Modul pelatihan  terdiri dari 5 modul, yakni:
1. Memahami dan memahami diri sebagai pendidik
2. Mendidik dan mengajar
3. Mendampingi murid dengan utuh dan menyeluruh
4.Mendidik dan melatih kecerdasan budi pekerti
5.Pendidikan yang mengantarkan keselamatan dan kebahagiaan








Selasa, 07 Juni 2022

Refleksi Terbimbing Modul 3.3.a.6 Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 


 

Refleksi Terbimbing Modul 3.3.a.6

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Oleh

Friska Panjaitan, S.Pd

CGP Samosir




 

  1. Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Setelah mempelajari modul ini saya mendapat pengetahuan dan juga pemahaman baru tentang bagaimana menyusun sebuah program yang berdampak pada murid, yang ternyata tidak mudah. Ada SOP yang harus dijalankan terutama dalam hal perencanaan yang menggunakan MELR yaitu monitoring, evaluation, Learning dan reporting. Setelah itu barulah menganalisis manajemen resiko yaitu 5 tipe resiko.

Hal yang menarik adalah bahwa ketika kita memiliki sebuah program atau ide akan sebuah program yang akan dikembangkan di sekolah haruslah bermula dari pemetaan aset atau sumber daya di sekolah, barulah sebuah program akan lebih terarah dan memiliki tingkat kesuksesan dan keberhasilan yang tinggi. saya selama ini banyak memiliki ide atau program yang ingin saya ajukan ke sekolah namun program tersebut belum berdasarkan analiasis pemetaan 7 aset atau modal sekolah

Hal menarik lainnya adalah bagaimana pendekatan inkuiri apresiatif mode BAGJA menjadi bagian penting dalam tahapan mendesain program yang bedampak pada murid. Dalam sesi ini pemahaman saya tentang BAGJA semakin meningkat setelah sebelumnya di sesi modul 3.2 juga menggunakan model BAGJA sebagai rancanagn aski nyata.

  1. Apa hal-hal baru yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid?

Ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapatkan terutama dalam hal perencanaan program di sekolah, hal-hal tersebut memang sudah tidak asing lagi bagi saya, karena sering saya mendengar istilah tersebut baik di sekolah maupun di luar keseharian mengajar di sekolah. Namun, dalam sesi diklat ini saya mendapat pengetahuan yang utuh dan komprehensif mengenai bagaimana sebuah program itu disusun, dievaluasi hingga dibuat pelaporannya.

Learning atau pembelajaran merupakan sebuah proses refleksi yang harus dilakukan dalam sebuah program sekolah sebagai sebuah kerangka kerja pembelajaran (Learning) yang membahas aspek utama yang perlu dipertimbangkan ketika meninjau suatu pengalaman atau sebuah program. Learning ini terdiri atas empat tahapan yaitu:

  1. Fact (Fakta ): Catatan objektif tentang apa yang terjadi
  2. Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi
  3. Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut
  4. Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa depan

Reporting, atau pelaporan Pentingnya analisis manajemen resiko dari sebuah program yang dibuat. Resiko-resiko tersebut antara lain:

· 1. Resiko strategis, resiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan

· 2. Resiko operasional, resiko berhubungan dengan kelangsungan proses manajemen

· 3. Resiko Finansial, merupakan resiko yang mungkin akan berakibat pada berkurangnya asset

  4. Resiko Pemenuhan, resiko yang berkaitan dengan kemampuan proses dan prosedur internal untuk memenuhi hokum dan peraturan yang berlaku

  5. Resiko Reputasi, yaitu resiko yang berdampak pada reputasi lembaga

Pentingnya 5 konsep atau strategi desain program yaitu Aim (dampak yang diinginkan), Objective (tujuan; outcome yang diinginkan), Output, yaitu hasil cepat yang diraih dari satu kegiatan yang dapat berkontribusi terhadap tujuan yang ingin dicapai (objective). Activities, yaitu kegiatan program atau kegiatan proyek yang sedang dilakukan sebagai proses memperoleh output yang diinginkan. Inputs, yaitu semua yang diperlukan selama melakukan kegiatan program atau proyek, seperti manusia, keuangan, organisasi, teknis, dan semua sumber daya sosial

  1. Perubahan apa yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Perubahan yang akan saya lakukan adalah merancang program yang berdampak pada murid sesuai dengan kriteria langkah atau prosedur yang telah saya pelajari di modul 3.3 ini yaitu menggunakan tahapan BAGJA, MELR, 12 prinsip monitoring dan evaluasi, 5 strategi desain program dan analsis manajemen resiko.

Selain itu juga saya harus melakukan pemetaan aset yang potensial di sekolah sebelum mendesain sebuah program yang berdampak pada murid, ataupun sebelum saya mengadopsi sebuah program dari sekolah lain. Karena sebuah program yang sukses di sekolah lain, belum tentu akan sukses atau sesuai untuk diterapkan di sekolah saya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menganalisis dampak program secara komprehensif untuk siswa baik dari segi keuntungan atau sisi positif maupun resiko resiko yang mungkin muncul.

 

4.Apa yang menantang bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Saya menyusun program sederhana yang melibatkan murid dan orang tua dan dalam penyusunan program yang berdampak pada murid saya menggunakan pendekatan BAGJA dalam pengelolaan sumber daya sekolah. Saya optimis bahwa dengan pendekatan BAGJA akan memberikan solusi alternatif atas permasalahan siswa di sekolah. Kita dapat mengidentifikasi dan menginventarisasi kekuatan yang ada untuk dimaksimalkan dengan cara menyusun program yang diawali dari perumusan tujuan berupa pertanyaan sekolah yang diimpikan hingga memetakan potensi yang mungkin bisa dioptimalkan dengan bercermin pada evaluasi hasil kegiatan sebelumnya sebagai gambaran penyusunan program terutama dalam mengantisipasi segala kemungkinan resiko yang akan terjadi, sehingga kita siap apabila rencana yang dijabarkan belum menemui hasil yang diharapkan dengan menyiapkan rencana alternatif untuk melakukan eksekusi kegiatan

5. Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang dapat menumbuhkan program yang berdampak pada murid, guru dan sekolah tentunya tidak dapat bekerja sendiri. Mereka akan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya dari komunitas. Yang dimaksud dengan komunitas di sini dapat terdiri dari murid, guru, orang tua, orang dewasa lain yang ada di sekitar murid, dan masyarakat atau lingkungan sekitar.

Semoga Bermanfaat...

Salam dan Bahagia




 

 

 

 

 

Kamis, 26 Mei 2022

AKSI NYATA MODUL 3.1.a.10 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Aksi   Nyata  Modul  3.1.a.10  Pengambilan  Keputusan  Sebagai  Pemimpin  Pembelajaran

 

                


                   

 

 

Peristiwa ( Facts )

Masa pandemi covid -19 memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran disekolah saya, sehingga mengharuskan sekolah untuk melakukan pembelajaran menggunakan model PJJ atau daring dengan berkolaborasi bersama wali murid. Jelas ini sangat berdampak sekali pada cara belajar, sikap, dan motivasi belajar peserta didik yang menurun karena selama melakukan pembelajaran daring saya menggunakan media zoom meet, WA Grup dan aplikasi Jamboard. Namun itu semua tetap saja tidak berdampak signifikan terhadap motivasi dan prestasi peserta didik

                                    

 


                                         


Sekarang ini proses pembelajaran sudah diberlakukan kembali tatap muka seperti biasa, hal tersebut menjadi  Dilema etika dimana saya sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu membuat keputusan yang tepat untuk mngembalikan semangat,motivasi,sikap dan prestasi peserta didik.

Saya mencoba mengambil keputusan berdasarkan materi pada modul 3.1 yang sudah saya pelajari.Paradigma yang terjadi dalam kasus tersebut diatas adalah jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term ), kemudian prinsip yang saya ambil yaitu Berfikir berbasis rasa peduli ( care-based thinking ), saya mencoba menggunakan 9 langkah untuk pertimbangan bahan pengujian dan pengambilan keputusan yang akan diambil sehingga dapatlah sebuah keputusan yang tepat yaitu dengan cara melakukan pembelajaran yang kreatif, inovatif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar atau belajar diluar kelas untuk meningkatkan semangat ,motivasi dan meningkatkan kembali prestasi belajar, kemudian menerapkan budaya positif sekolah dengan membiasakan kembali sholat duha bersama peserta didik sebagai upaya menanamkan nilai-nilai positif.  

Itulah salah satu aksi nyata saya dalam mengambil sebuah keputusan berdasarkan permasalahan yang sudah dijelaskan diatas.

 




Perasaan ( Feelings )

Saya sebagai pemimpin pembelajaran merasa tertantang dan termotivasi untuk melakukan suatu keputusan sebagai bentuk solusi atas permasalahan yang terjadi dengan menggunakan materi serta langkah-langkah yang sudah dipelajari pada modul 3.1 ini sehingga, keputusan yang saya ambil tepat dan dapat memenuhi segala kebutuhan peserta didik.

 

 


 

 


 

Pembelajaran ( Findings )

Dalam proses pembelajaran ini saya mengajak peserta didik dan seluruh warga sekolah ( Kolaborasi ) untuk bersama-sama membangun kembali motivasi, semangat ,sikap dan prestasi belajar peserta didik yang selama ini menurun akibat pembelajaran daring,pada tahap inilah saya dapat mengetahui kendala, hambatan dan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi sehingga nanti didapat formulasi yang tepat untuk mengatasi  masalah ini. Dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pada materi modul 3.1 memudahkan saya dalam mengambil keputusan yang tepat.

 




 

 

 

 

Penerapan ( Future )

Setelah mendapatkan keputusan yang tepat saya mencoba menerapkan solusi dari permasalahan tersebut secara rutin dan melakukan kolaborasi bersama seluruh warga sekolah guna memfasilitasi kebutuhan belajar peserta didik yang dapat meningkatkan semangat,motivasi,sikap dan prestasi secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam proses pembelajaran.

 

Ada dua kebenaran yang ada, adalah benar jika saya menerapkan pembelajaran yang kreatif karena sebagai bentuk cara untuk meningkatkan kembali motivasi belajar murid.

Tapi benar juga jika saya menerapkan budaya positif karena dapat membantu membentuk sikap murid dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan universal yang berguna untuk kehidupannya.

Paradigma yang terjadi pada kasus ini adalah jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term )

Prinsip yang diambil yaitu berfikir berbasi rasa peduli ( care- based thinking )

Yang terlibat dalam situasi ini yaitu saya selaku pemimpin pembelajaran , murid, rekan guru, kepala sekolah dan wali murid / keluarga.

 

 







 

 

 

 

Senin, 25 April 2022

Tugas 3.1.a.9. Koneksi Antar Materi; Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pengambilan keputusan merupakan cara yang akan memiliki pengaruh besar dalam proses dan berjalannya sebuah organisasi/sekolah, maka dalam modul ini CGP diminta untuk melaksanakan refleksi terhadap materi-materi pada modul yang sudah dipelajari dalam bentuk koneksi antar materi

Beberapa pertanyaan yang dapat membantu untuk menjabarkan keterkaitan antar modul berdasarkan refleksi CGP adalah seperti di bawah ini: 

 1.Bagaimana pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil? 



 Menurut saya pengaruh pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka terhadap sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran adalah ketika guru mampu menyadari bahwa dalam lingkungan sekolah sering kali kita dihadapkan pada berbagai dilema etika dan bujukan moral. Berdasarkan keradaan tersebutlah maka guru harus memiliki kompetensi dan peran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hadjar Dewantara dengan cara menjadi sosok yang dapat menjadi teladan yang positif, motivator, fasilitator dan mampu membentuk karakter positif kepada murid untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila. Dalam pengambilan keputusan guru juga dapat menggunakan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan. 
 Adapun 9 langkah-langkah yang dapat dilakukan : 
 1.Mengenali terlebih dahulu nilai-nilai yang saling bertentangan.
2.Menentukan pihak-pihak yang terlibat 
 3.Mengumpulkan fakta-fakta secara lengkap dan detail 
 4.Melakukan pengujian benar atau salah
 5.Melakukan pengujian benar melawan benar 
 6.Melakukan prinsip revolusi 
 7.Mencari atau menginvestigasi opsi trilemma 
 8.Membuat keputusan
 9.Melakukan refleksi dan mengambil pelajaran dari suatu keputusan yang telah diambil

. 2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 Menurut saya bahwa nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita akan berpengaruh pada prinsip-prinsip yang akan kita ambil nantinya dalam pengujian dan pengambilan keputusan. Pada proses pengambilan keputusan, kita mengenal tiga prinsip yang meliputi: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan tentunya berkaitan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Guru dalam memberikan pelayanan dan pembelajaran juga harus memiliki rasa empati terhadap murid agar murid memiliki rasa terbuka dan berminat terhadap pembelajaran yang kita berikan, hal ini merupakan salah satu prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking). 

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.






 Menurut saya mengenai kaitannya antara pengambilan keputusan dengan kegiatan coaching sangat efektif, karena dengan mempelajari materi coaching kita dapat mempelajari cara berkomunikasi yang memberdayakan (asertif), teknik mindfullnes, dan coaching model TIRTA. Artinya, dengan kemampuan dalam menerapkan coaching untuk membantu memecahkan permasalahan yang dialami oleh murid atau komunitas praktisi di sekolah merupakan cara dalam pengambilan keputusan ketika dihadapkan pada dilema etika dan bujukan moral. Selain itu dalam pengambilan keputusan juga menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan bersama murid atau komunitas praktisi di sekolah

. 4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan? 

 Menurut saya bahwa dasar pengambilan keputusan adalah nilai-nilai kebajikan yang tidak bertentangan dengan dilema etika atau bujukan moral. Dalam proses mengelola aspek sosial dan emosional dalam pengambilan keputusan maka diperlukan teknik mindfullnes atau kesadaran penuh, hadir sepenuhnya dalam masalah yang dialami dan mampu memahami tujuan pembelajaran sosial emosional. Ketika guru mampu menerapkan mindfullnes yang didalamnya juga terdapat nilai-nilai kebajikan, maka dalam pengambilan keputusan akan berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya.


5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 

 Menurut saya sebagai seorang pendidik tentunya kita akan dihadapkan pada situasi dilema etika atau bujukan moral di lingkungan sekolah. Penanganan masalah pada studi kasus yang telah di sediakan memberikan contoh dan praktik secara langsung merupakan masalah yang sering kita jumpai di sekolah baik yang dialami oleh murid maupun guru dalam proses berinteraksi di sekolah. Adanya teknik 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengujian dan pengambilan keputusan akan memberikan rambu-rambu dalam penyelesaian dilema etika atau bujukan moral yang dihadapi.

 6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. 

 Menurut saya dalam pengambilan keputusan memiliki arti yang penting bagi berkembangkan sebuah organisasi atau satuan pendidikan. Pada pengambilan keputusan yang tepat akan menghasilkan suatu perubahan terhadap organisasi atau lembaga ke arah yang lebih baik, berkembang dan mampu mewujudkan visi dan misi yang telah disusun. Namun jika dalam pengambilan keputusan terjadi kesalahan, maka akan berdampak buruk bagi organisasi atau lembaga tersebut, sehingga dalam melakukan pengambilan keputusan harus berpedoman pada paradigma, prinsip dan 9 langkah dalam proses pengujian dan pengambilan keputusan. 

 7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

 Menurut saya perubahan tidak dapat dibangun secara singkat, namun ada proses yang harus dilalui dan dikerjakan agar terwujud. Perlu adanya sosialisasi dan komunikasi secara persuasif secara terus-menerus agar lingkungan yang masih menggunakan paradigma lama akan memiliki pemahaman baru dan mampu beradaptasi dengan adanya perubahan. Pengambilan keputusan atas adanya perubahan maka perlu dilakukan dari hal kecil agar menjadi kebiasaan dan budaya positif dalam lingkungan tersebut. Dengan berdasarkan pada visi dan misi serta tujuan sekolah, maka akan mencapai perubahan yang dapat diterima oleh lingkungan atau warga sekolah. 

 8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang  murid-murid kita?











 Menurut saya hal itu memiliki pengaruh, karena kita sebagai pemimpin pembelajaran tentunya sudah memahami pokok-pokok atas perubahan yang salah satunya pembelajaran berpihak pada murid, sehingga seorang pemimpin pembelajaran dalam melakukan pengambilan keputusan mampu memfasilitasi dan memerdekakan murid dalam proses pembelajaran di sekolah. 

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 Menurut saya, sebagai seorang guru yang selalu memberikan bantuan pembelajaran dan pelayanan konseling kepada murid akan selalu memperhatikan rencana jangka panjang yang akan dihadapi seorang murid ketika terjun ke masyarakat, sehingga guru harus menjadi motivator, coach dan pengaruh yang baik kepada murid agar mampu beradaptasi dan memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan. 

 10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?


                                                                         
                   


                               


  



 Kesimpulan yang dapat diambil dari modul yang sudah saya pelajar ini dan kaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa sebagai guru yang merupakan pemimpin pembelajaran bagi murid dan komunitas praktisi di lingkungan sekolah maka diharapkan mampu memiliki sikap among berdasarkan Pratap Triloka yang dapat membantu murid dalam tumbuh kembang dan menjadi modelling bagi lingkungannya. Selain itu, kemampuan guru dalam pengambilan keputusan didasari oleh kemampuannya dalam melaksanakan coaching, sehingga pengambilan keputusan yang diperoleh memberikan dampak positif bagi murid dan sekolah

Minggu, 06 Februari 2022

MODUL 1.4.a.10.2. AKSI NYATA - BUDAYA POSITIF - FORUM BERBAGI AKSI

                                    MODUL 1.4.a.10.2. AKSI NYATA - BUDAYA POSITIF 
                                                                              oleh 
                                                                 Friska Panjaitan, S.Pd 
                                                                   
                                                                  Guru SMPN 1 Simanindo
                                                                            CGP Samosir 







 A. Latar Belakang
 Perubahan zaman yang semakin maju mempengaruhi segala seluk beluk bidang kehidupan, terkhusus bidang pendidikan. Budaya positif sangat penting untuk dikembangkan pada pembelajaran peserta didik, mengingat pada masa ini adalah masa penting dalam menanamkan nilai-nilai yang positif untuk anak-anak yang kelak akan dibawanya sampai dewasa. Budaya positif akan membentuk karakter-karakter anak yang bagus, karakter-karakter inilah yang akan membentuk kepribadian anak ketika tumbuh dewasa. Budaya positif juga menjadi filter bagi anak-anak dalam menghadapi zaman modern seperti sekarang dan semua serba digital. Menerapkan budaya positif untuk dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari. Budaya positif yang kita terapkan berbeda dengan apa yang pernah kita dapatkan di masa lampau, mungkin kita dulu sering dihukum atau dihardik karena kesalahan yang kita tidak sengaja karena memang kita tidak tahu. Hukuman ini merupakan kontrol orang tua atau guru ketika kita berbuat salah. Hal tersebut tentu sudah tidak dapat diberlakukan di zaman sekarang ini, kita kembangkan budaya positif ini melalui tindakan-tindakan yang positif, kata-kata yang positif, mengajak diskusi anak tentang tindakan mereka, berbagi dan menemukan solusi bersama untuk menyelesaikan akibat dari tindakan mereka. Sehingga budaya positif akan timbul karena dorongan dalam diri anak bukan karena takut akan hukuman dari guru atau orang tua. Seorang guru dituntut untuk mampu menjadi agen yang bisa menggerakkan peserta didik untuk menumbuhkan budaya positif pada peserta didik. Membangun budaya positif oleh seorang guru dapat dimulai dengan membuat kesepakatan – kesepakatan dengan peserta didik untuk dijalankan bersama. Kesepakatan – kesepakatan kelas yang dimaksud adalah berupa harapan – harapan dari guru, harapan – harapan dari peserta didik yang dirancang oleh guru dan peserta didik secara bersama - sama yang berisi aturan – aturan yang membantu guru dan peserta didik bekerja sama dalam proses pembelajaran, dengan harapan semuanya bisa menaati dan konsisten dilaksanakan. Keyakinan kelas ini dibuat dan disepakati oleh semua warga kelas. Sehingga hal ini akan menumbuhkan hal-hal positif di kelas. 

 

 B. TUJUAN
  •  Menumbuhkan Karakter murid melalui budaya positif 
  •  Menanamkan budaya positif yang akan menjadi bekal hidup untuk murid selamat dan bahagia 
  •  Mewujudkan keyakinan kelas sebagai pembiasaan yang terpola secara otomatis dan membantu mewujudkan profil pelajar Pancasila. 
  •  Menumbuhkan sikap tanggungjawab melalui keyakinan kelas yang telah dibuat Bersama 

 C. TOLAK UKUIR
 1. Melalui keyakinan kelas yang dibuat Bersama dengan peserta didik akan terlihat sikap tanggungjawab terhadap apa yang telah disepakati Bersama dalam keyakinan kelas
 2. Guru dan siswa konsisten dalam menjalankan keyakinan kelas yang telah disepakati bersama 

 D. LINIMASA TINDAKAN
 1.Melakukan implementasi pembuatan keyakinan kelas pembelajaran IPS Bersama murid dalam bentuk poster yang ditempel pada bagian depan kelas sehingga semua siswa dapat melihat, mengingat dan kemudian tidak lupa untuk melaksanakannya dan akhirnya menjadi kebiasaan/karakter positif dan akan menjadi budaya positif sekolah. 
 2.Pendekatan persuasif melakukan pengimbasan budaya positif kepada rekan-rekan sejawat melalui pertemuan dewan guru di sekolah berkolaborasi dengan guru dan kepala sekolah.

 E. DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN 
 1. Dukungan dari semua pihak (Kepala Sekolah, guru, karyawan, peserta didik)
 2.Komitmen dari semua pihak dalam melaksanakan budaya positif di sekolah

UDL( Universal Desain for Learning)

                                          Universal Design for Learning #GBBUDL #gtkdikmendiksus #kemdikbudristekdikti    1. Pengertian  UDL...